Gunung Rinjani adalah gunung yang terletak di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini adalah gunung berapi tertinggi nomor 2 di Indonesia dengan ketinggian 3726mdpl setelah Gunung Kerinci.Ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya.
Kali ini saya akan bercerita
tentang pengalaman saya mendaki puncak Dewi Anjani tersebut. Persiapan saya
terbilang sangat mendadak, karena saya diajak oleh bibi saya hanya sekitar 1
bulan sebelum pendakian. Awalnya saya ragu – ragu, karena pendakian dimulai
tanggal 13 Desember dan sangat mepet sama Ulangan Semester. Tapi setelah saya
pikirkan lagi, ini adalah kesempatan saya untuk mencari pengalaman di Gunung
tersebut.
Persiapan mulai saya lakukan,
mulai dari peralatan seperti tongkat gunung, sarung tangan, jaket gunung,
sepatu, sandal sleeping bag, syal, tas carier dan masih banyak lagi. Bukan
hanya persiapan peralatan saja, persiapan fisik terbilang sangat penting bila
ingin sampai puncak Rinjani ini, mulai dari joging setiap pagi hari dan makan
yang teratur.
Setelah Ulangan Semester
selesai, dan sudah menyelesaikan beberapa pelajaran yang remidi, saya mulai
bersiap siap barang yang akan saya bawa. Di setiap pendakian, packing yang
benar juga sangat penting untuk
kelancaran saat kita mendaki.
kelancaran saat kita mendaki.
Jum’at 12 Desember sore, saya
berangkat ke Surabaya, dan menginap di rumah saudara saya yang ada di Surabaya
sebelum besoknya Terbang menuju Pulau Lombok.
Sabtu 13 Desember,
Setelah sarapan dan mengecek
barang bawaan saya, saya berangkat Ke Bandara Juanda sekitar pukul 07.00 WIB.
Saya sudah janjian dengan rombongan dari Kota Jember bertemu di bandara.
Sekitar pukul 10.00 WIB
Saya terbang dengan rombongan menuju Pulau Lombok. Kita sampai Di pulau Lombok Sekitar Jam 12.00 WIT, setelah sampai kita dijemput Travel yang sudah dipesan beberapa hari lalu. Kami langsung diantar menuju Swalayan yang berada di kota Mataram. Disana kita membeli keperluan makanan yang akan dibawa ke atas. Setelah selesai kami langsung menuju Desa Sembalun. Desa Sembalun terletak di kaki Gunung Rinjani, perjalanan kami tempuh sekitar 4 jam dari bandara. Sebenarnya normal perjalanan sekitar 3 jam, tapi kami harus membeli perbekalan yang harus dibawa ke atas.
@Bandara Juanda Surabaya
|
![]() | ||
| Lion Air |
| Selamat Jalan Surabaya |
Saya terbang dengan rombongan menuju Pulau Lombok. Kita sampai Di pulau Lombok Sekitar Jam 12.00 WIT, setelah sampai kita dijemput Travel yang sudah dipesan beberapa hari lalu. Kami langsung diantar menuju Swalayan yang berada di kota Mataram. Disana kita membeli keperluan makanan yang akan dibawa ke atas. Setelah selesai kami langsung menuju Desa Sembalun. Desa Sembalun terletak di kaki Gunung Rinjani, perjalanan kami tempuh sekitar 4 jam dari bandara. Sebenarnya normal perjalanan sekitar 3 jam, tapi kami harus membeli perbekalan yang harus dibawa ke atas.
Ada 2 rute yang bisa dilalui
menuju puncak Rinjani, yaitu dari Sembalun dan Senaru. Kami memilih jalur
Sembalun dan mengakhiri lewat jalur Senaru.
| Suasana dalam elf |
| seger broo.. |
Setelah sampai, kami mengisi
daftar hadir di Pos Pendakian Sembalun. Setelah urusan administrasi selesai
kami langsung mencari homestay untuk beristirahat dan besoknya melakukan
pendakian. Desa Sembalun berada di ketinggian sekitar 1150 mdpl. Pada malam
hari bintang terlihat sangat banyak dan sangat indah. Momen ini tidak bisa saya
jumpai di tempat biasa, apalagi di rumah saya :D.
Malam
harinnya kami mencari makan malam di sekitar Pos sembalu, kami makan di sebuah
warung yang bernama “Warung Bambu”. Disana kami bertemu warga setempat yang
berasal dari Kota Batu, Malang. Tidak mengira saya bertemu orang jawa
disini..hehehe. Orang disana biasa memanggilnya “pakdhe”. Kami berbincang –
bincang dengan pakdhe cukup lama, pakdhe menasihati kami supaya biar aman
mendaki Gunung Rinjani ini. Pakdhe juga berpesan hati – hati bila berada di Pos
Plawangan/camp terakhir, karena disana banyak pendaki kehilangan barangnnya
ketika mendaki ke puncak. setelah itu pakdhe menawarkan porter kepada kami. Porter adalah orang-orang yang dibayar untuk membantu membawa
barang-barang para pendaki pada saat melakukan aktivitas pendakian gunung.
Seringkali porter juga bertugas untuk menyiapkan makanan pada saat pendakian dan bisa menjaga barang kami ketika kami
Summit Attack(mendaki ke puncak). Singkatnya, tugas porter adalah melayani para
pendaki yang telah membayar mereka.
Awalnya kami tidak ingin membawa porter, tapi setelah mendengar cerita dari
Pakdhe, kami berencana menyewa porter. Setelah itu Pakdhe langsung mencarikan
porter di daerah Pos Sembalun. Biasannya porter adalah orang yang tinggal
disekitar situ dan juga sering mengantarkan para pendaki ke Puncak. Tidak
beberapa lama Pakdhe mengenalkan kita kepada porter tersebut. Biayannya sekitar Rp.150.000 per hari, Biaya segitu sudah normal. Suatu
pendakian harus mengutamakan Keselamatan dan keamanan, semua itu harus
diutamakan supaya kita bisa berhasil/sukses dalam suatu pendakian.
Salah satu Rombongan kami Mas Wawan meminta porter untuk menunjukkan jalan yang memotong/jalan pintas. Memang Mas Wawan sudah pernah naik Rinjani, bisa disebut Mas Wawan adalah Leader kami. Memang jalan yang memotong ini lebih pendek, tapi kami harus melewati jembatan yang sangat curam dan terbilang extream. Sebagai pendaki pemula, saya hannya membawa 1 tas carrier. Sebenarnnya saya mejuga membawa 1 daypack/tas kecil. Daypack saya dibawa oleh Mas Yossi, salah satu rombongan kami yang mempunnyai tenaga super :D. Setelah melewati jembatan yang curam itu, kami beristirahat di tengah padang savanna yang sangat luas.
![]() |
| Isrtirahat di Padang Savana |
![]() |
| Puncak Anjani yang menyimpan banya cerita... |
Dari Pos 1 Ke Pos 2. Jalur dari pos ini ke Pos II masih sedikit menanjak dan curam. Berbeda dengan perjalanan ke pos 1. Perjalanan ke Pos 2 kami ditemani kabut yang sangat tebal dan angin yang bertiup kencang. Sampai – sampai suara angin pun bisa terdengar ditelinga kita. Kami melewati sungai aliran lahar dingin yang kebetulan kering. Kami juga melewati jembatan dengan pemandangan tebing – tebing yang sangat indah, tapi jangan sampai menengok ke bawah, bisa – bisa kita merinding melihatnnya. Karena jika kita melihat kebawah, kedalaman sungai cukup dalam sekitar 20 meter. Disini saya sempat beristirahat di jembatan itu, sedikit melepas lelah dan meminum air mineral yang saya bawa untuk menambah tenaga.Sekitar pukul 11.00 saya sudah berada di Pos 2. Di pos 2 pos peristirahatan cukup luas dan jika tidak ada kabut kita bisa melihat desa sembalun. Karena kabut dan pos itu ramai, saya langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Dari Pos 1 menuju Pos 2 saya tempuh sekitar 1 jam.
Dari Pos 2 menuju ke Pos 3 kita akan bertemu sebuah persimpangan jalan yang memisahkan jalur ke Bukit Penyesalan (kanan) dan ke Bukit Penyiksaan/penderitaan (kiri). #namannya serem broo.. Mengapa dinamakan bukit pennyesalan? Karena jika kita mendaki melewati bukit ini kita akan merasa menyesal telah mendaki Rinjani karena rute yang dilewati sangatlah panjang. Dan Mengapa diberi nama Bukit Penyiksaan/penderitaan?? Karena jika kita mendaki bukit ini kita akan merasa tersiksa dan menderita.
Saat ini jalur yang sering dipakai adalah bukit penyiksaan, karena jalur bukit penyesalan jembatannya sudah hancur dan jalan setapaknya sudah tidak begitu jelas. Di pos ini kita bisa jumpai sumber mata air dan sebuah toilet yang merupakan hasil sumbangan dari sebuah LSM asal New Zealand. Pos nya sendiri letaknya disebuah lembah yang diapit bukit. Perjalanan menuju Pos 3 kami masih ditemani kabut yang tebal, gerimis pun mulai ikut – ikutan menemani perjalanan saya. Ada juga disaat kabut mulai menghilang, ternyata pemandangan bila disaat tidak ada kabut sangatlah indah. Di mulut saya terus terucap subhanallah… subhanallah… subhanallah… begitu indah alam yang engkau ciptakan ini ya Allah. Beberapa kali saya beristirahat di atas tebing melihat keindahan-keindahan yang tidak setiap saat bisa saya nikmati. Setelah kabut mulai menutupi keindahan-keindahan itu saya pun melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Saya tiba di Pos 3 sekitar pukul 13.00 WITA. 2 jam dari Pos 2 menuju Pos 3. Disini kami UnGroup (…….) dan menunggu rombongan kami yang ada di belakang. Disini kami makan siang, menyeduh kopi dan shalat. Setelah beristirahat cukup lama sekitar 1 jam, kami melanjutkan perjalanan menuju camp terakhir’PosPlawangan.
| duduk menikmati kopi di pos sambil bercanda |
Eits.. jangan senang dulu, disinilah kita akan melewati 9 Bukit Penyiksaan itu (tanjakan bukit Sembilan). Di bukit penyiksaan tidak ada bonus track. Disini kita diharuskan mendaki di kemiringan yang sangat extream/curam. Dan disinilah penyiksaan/penderitaan dimulai. Mas Wawan juga menyebutnya Bukit PHP (Pemberi Harapan Palsu). Karena kita akan dihadapkan dengan puncak semu. Puncak semu adalah, jika kita melihat di atas kita akan bersyukur karena sudah hampir sampai puncak dari bukit itu. Ternyata tidak, diatas puncak tersebut masih ada puncak lagi, lagi lagi dan lagi, pokoknya sampai 9 puncak harus kita lewati. Apalagi cuaca waktu itu hujan cukup seras dan petir menyambar dimana – mana. Saya langsung memakai jas hujan yang saya siapkan. Setelah 3 jam Mendaki Bukit penyiksaan itu saya sampai di puncak ke 7. Disana sudah menunggu Mas Wawan Dan Bang ilyas. Saya beristirahat disitu, sambil menunaikan shalat ashar di ketinggian sekitar 2500 mdpl (meter diatas permukaan laut).
| Sepatu isinua pasir semua itu :D |
Disinilah titik dimana saya sendirian, ditengah hutan, kanan-kiri jurang di malam hari pula. Jujur disinilah saya merasa ketakutan dan mental saya sangat down apalagi fisik saya sudah hampir mencapai batasnnya. Mau naik jalan tidak kelihatan, karena bebatuan dan salah sedikit sudah masuk jurang. Dan jika saya turun, jalan juga sama sekali tidak kelihatan. Akhirnya saya disini hanya berdiam diri menunggu rombongan saya di belakang. Ditambah carrier yang saya bawa tidak bisa saya letakkan sembarangan, karena jika jatuh akan menggelinding ke dasar jurang. Apa boleh buat, saya menunggu rombongan sambil membawa tas carrier yang saya bawa. Tetapi disinilah juga saya berpikir, kita tidak bisa hidup sendirian di dunia ini, kita selalu membutuhkan orang lain untuk membantu hidup kita. Orang yang egois dan mementingkan diri sendiri dan seolah-olah tidak butuh orang lain adalah orang yang sombong dan tidak pernah mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepadannya. Itulah yang saya renungkan di tempat yang sunyi itu. Tapi saya tidak patah semangat, saya harus terus berpikir positif. Tujuan awal saya mendaki disini adalah menggapai Puncak Rinjani dan mengibarkan berndera PANDHIKA. Dari awal memang saya tau resiko – resiko yang akan saya terima.
Setelah sekitar 45 menit saya sendiri, saya melihat senter dari kejauhan. Lama – lama senter itu mulai mendekat kepada saya. Ternyata itu Mbak Sari (Bibi Saya) dan Mas Yudi salah satu rombongan saya. Lega rasannya setelah bertemu rombongan. Di bawah masih ada Mas Wawan, Mas Hanan dan Mbak Mevi. Sedikit cerita, Mas Hanan dan Mbak Mevi adalah suami istri yang baru 7 hari menikah dan berbulan madu Di Puncak Rinjani.
Setelah bergabung dengan rombongan, saya melanjutkan perjalanan. Setelah 10 menit berjalan kami diahadapkan 2 jalur yang membingungkan. Disinilah manfaat pengetauan mendaki digunakan, sebagai leader Mas Wawan memutuskan berbelok kiri. Tentu bukan tanpa alasan, pertama, ada sampah permen di jalur kiri. Dan yang kedua, rumput berbelok ke arah depan, tandannya sudah ada orang yang lewat situ. Ternyata benar, jalur yang kami pilih menujun Pos Plawangan. Akhirnya kami bisa menuntaskan melewati 9 bukit penyiksaan. Kami tiba di Pos Plawangan sekitar pukul 20.00 WITA. Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos Plawangan/camp terakhir saya tempuh 6 jam. Padahal normal 4 jam.
Di Pos Plawangan, 2 tenda sudah disiapkan oleh porter kami yang turun tadi. Akhirnya beban yang dari tadi berada di punggung saya sudah terlepas, Lega rasannya bisa terlepas dari beban yang menempel selama 13 Jam perjalanan melewati segala trek yang curam dan extream.Pos Plawangan terletak pada ketinggian 2639 mdpl. Pos Plawangan juga tempat yang tepat untuk mendirikan tenda karena mempunnyai daratan yang cukup luas untuk beberapa tenda yang terletak diatas gigiran punggungan yang menyatukan dengan punggungan menuju puncak. Dari sini kita dapat melihat Danau Segara Anakan Dan gunung Barujari. Kita juga dapat melihat Puncak Rinjani yang berdiri kokoh. Disini sangat banyak monyet liar berkeliaran, dan hati – hati jangan sampai menaruh makanan sembarangan di luar tenda, karena monyet sangat agresif untuk merebut makanan setiap pendaki lengah.
Pukul 21.00, kami mulai memasak makanan yang kami bawa, dengan kompor gunung dan nesting, kami memasak sayur bening waktu itu. Setelah makan dan Sholat Kami langsung beristirahat.
Senin, 15 Desember
Puncak Anjani yang masih malu malu tertutup awan...
|
Pagi itu Saya bangun kesiangan sekitar pukul 08..00, Mungkin
saking capeknya. Suasana di Camp Plawangan Sembalun cukup segar waktu itu. Saya
langsung membuka tenda saya yang sudah sedikit terbuka karena beberapa
rombongan saya sudah keluar dari pagi untuk mengambil Gambar. Memang banyak
yang bilang disini view nya sangat bagus. Dari sini saya bisa melihat Danau
Segara anakan yang masih sedikit berselimut kabut. Sinar Matahari belum
menyentuh tubuh saya karena matahari masih tertutup Puncak Rinjani yang sangat
tinggi. Setelah menyeduh kopi sambil menikmati pemandangan di Camp ini, Kami
langsung masak untuk sarapan pagi.
| Masak bro |
Setelah sarapan saya langsung pergi ke bukit
sebelah camp untuk melihat view danau segara anakan dari sisi yang berbeda dan
langsung jeprat jepret disana. Memang beberapa kali Danau nya tertutup awan
yang menyelimutinnya. Ini beberapa foto yang berhasil Kami ambil :
![]() |
| Puncak yang terlihat jelas... |
| Danau segara anakan |
| cool |
DAnau diatas Awan..
|
Setelah shalat dan makan siang, kami semua beristirahat lagi
untuk mempersiapkan fisik karena malam nanti kita akan Summit Attack pukul
00.00. Pukul 18.00 kami di brifing untuk summit attack malam nanti. Semua
barang yang tidak penting, seperti tas carrier kami tinggalkan di tenda. Kami
hanya membawa barang yang penting’-penting saja seperti, headlamp, kupluk,
masker, tongkat, p3k , daypak dan harus memakai jaket tebal dan sepatu. Waktu
itu saya memakai baju dan jaket rangkap 4 dan celana rangkap 2 dan kaos kaki
pun rangkap 2 :D. Maklum lah ini pertama kali Saya Summit attack di gunung yang
ketinggiannya lebih dari 3000 mdpl. Waktu itu udara sangat dingin kira kira
sekitar 11 derajat celcius di Plawangan Sembalun. Saya belum bisa membayangkan
bagaimana dinginnya di atas nanti. Perbekalan air juga sangat penting. Kita
harus bisa mengira-ngira seberapa banyak air yang kita bawa nanti. Jika terlalu
banyak, itu akan membebani tas daypak yang kita bawa. Setelah brifing, kami
kembali beristirahat lagi dan harus bangun pukul23.30 nanti untuk mempersiapkan
Summit Attack.
Selasa 15 Desember
Dan waktunnya kami harus Summit Attack. Sedikit penjelasan,
Summit Attack adalah titik pendakian yang paling sulit. Disini barang – barang
dan tas carier kita ditinggal di tenda. Kita hanya membawa tongkat dan daypak/tas
kecil. Karena trek yang dilewati lebih sulit dari sebelumnya, yaitu trek
berpasir dan berbatu
Setelah semuannya sudah benar benar siap, kami berpamitan
kepada pendaki lain untuk summit dan meminta untuk menjaga tenda kami karena
porter yang kami bawa turun duluan. Sebelum summit kami tidak lupa memanjatkan
doa semoga perjalanan kami nanti berjalan lancar tanpa ada halangan dan semoga
semua rombongan kami berhasil berdiri diatas ketinggian 3727 mdpl di Puncak
Dewi Anjani. Jujur saja waktu itu saya masih sedikit takut karena cuaca juga
bisa berubah sewaktu waktu. Tapi Saya ingat niat awal Saya, Saya ingin
menaklukkan Gunung ini dengan usaha dan tenaga saya sendiri.
Headlamp saya nyalakan tongkat sudah saya pegang dan
Bissmillah perjalanan Summit Attack dimulai. Perjalanan waktu itu cukup sepi,
karena hannya rombongan kami yang berangkat duluan. Pertama kami harus melewati
bukit bukit yang lumayan curam. Udara cukup mendukung waktu itu, Bulan dan
bintang terlihat jelas diatas Saya. Trek yang Saya lewati sudah mulai berpasir
dan cukup licin. Ini menandakan bahwa, saya akan melewati Batas vegetasi. Batas
vegetasi adalah dimana kita akan melewati batas tanaman dan pohon. Di titik ini
kita harus bisa menyesuaikan udara dan suhu tubuh, karena biasannya setelah kita
melewati batas vegetasi, suhu akan berubah drastis dan sangat dingin. Sebelum
melewatinnya, saya menunggu Mas Yudi, Salah satu rombongan Saya.
| Ketawa terakhir sebelum Melewati batas Vegetasi |
Saya tidak
berani melewati batas vegetasi sendirian karena setelah batas Vegetasi kita
tidak menemukan tanaman ataupun pohon dan hanyya pasir dan batu yang kita
lewati. Kita harus bisa menyesiaikan keadaan suhu tubuh dan udara atau biasa
disebut Proses Aklimatisasi. Proses Aklimatisasi sangat penting jika kita akan
mendaki gunung. Jika kita tidak bisa menyesuaikan, kita akan terkena penyakit
Hipotermia. Hipotermia adalah kondisi dimana tubuh kita tidak bisa menyesuaikan
suhu di luar. Penyakit ini paling ditakuti setiap pendaki gunung, karena bila
salah penanganan sang penderita akan langsung meninggal di tempat, Sunyinya
batas vegetasi itu pun sedikit membuat Saya merinding juga. Setelah istirahat
sejenak Kami berdua melanjutkan perjalanan. Rombongan yang lain masih jauh
berada di belakang. Hanya Saya dan Mas Yudi yang berada di garis terdepan. Saya
merasakan suhu yang perlahan berubah menjadi sangat dingin dan Angin cukup
kencang. Tidak terasa Batas Vegetasi sudah saya lewati, sakarang kami
dihadapkan dengan trek yang berpasir dan berbatu. Saya beberapa kali berhenti
sejenak untuk menyesuaikan suhu tubuh saya. Mas yudi pun sudah mulai tidak
terlihat di depan. Beberapa kali saya meminum air yang saya bawa.
Disini saya juga haris bisa memilih pijakan yang tepat, jika
tidak Saya akan terperosok ke bawah. Ditambah lagi trek yang saya lewati hanya
memiliki lebar sekitar 5-7 meter jadi jika saya terlalu berjalan ke pinggir
juga sangat berbahaya, memang benar kata orang, Pada saat summit di Rinjani angin
pun bisa menjadi penentu hidup dan mati kita. Perlahan dan perlahan saya
berjalan naik. Waktu sudah menunjukkan 13.30 waktu itu, Saya sudah berada di
ketinggian 3450 mdpl. Saya beristirahat cukup lama disini. Disini saya bisa
melihat senter-senter para pendaki lain di bawah sana. Saya juga bisa melihat
kota Lombok di jauh sana. Dan yang paling membuat saya senang adalah saya bisa
melihat laut di kejauhan. Setelah beberapa menit saya beristirahat, Saya
perlahan melanjutkan perjalanan. Hanya bulan dan bintang yang setia menemani
perjalanan Saya waktu itu.
Di ketinggian 3600 saya berada di titik dimana
kondisi fisik Saya yang sudah mulai habis dan batrai Senter pun sudah mulai
habis. Disitulah saya berfikir Saya tidak bisa melanjtkan perjalanan itu. Saya
cukup lama istirahat disitu sekita 30 menit lebih. Dari kejauhan saya melihat
pendaki lain yang juga berusaha menaklukkan gunung ini. Kebetulan dia salah
Satu mahasiswa dari sebuah universitas di Yogyakarta. Dia duduk di sebelah Saya
sembari beristirahat. Dia adalah salah satu MAPALA yang menjalankan misi
Menaklukkan 7 Puncak tertinggi di Indonesia. Dia bercerita bannyak tentang
pengalaman nya mendaki Gunung. Dia mengatakan Mendaki gunung itu bukan hannya
tentang fisik dan kelengkapan peralatan, tapi juga tentang Mental dan Motivasi.
Disini kita akan mengetahui seberapa besar motivasi kita untuk menaklukkan
sebuah puncak. Disini saya belajar banyak tentang mendaki Gunung. Setelah
sekitar 30 menit dia beristirahat, dia berpamitan melanjutkan perjalanan. Dan
Saya masih berpikir kalau saya akan turun. Setelah beberapa saat Saya ingat
kata kata dari “Edmund Hillary” yaitu
“Bukan gunung yang kita
taklukkan, tetapi diri sendiri” dan kata kata itu membuat saya lebih
termotivasi untuk menaklukkan Puncak Dewi Anjani ini. Saya mempersiapkan fisik
dan mental saya lagi. Saya berdiri dan perlahan melangkahkan kaki saya kedepan.
Bulan dan bintang masih menemani perjalanan saya. Setelah berjalan cukup lama,
Puncak Rinjani sudah terihat. Bendera merah Putih pun sudah terlihat berkibar
disana. Tapi trek yang Saya lewati juga bertambah licin dan banyak batu.
Ditambah lagi belakang saya juga sudah terlihat pendaki yang lain. Jika saya
salah mengambil pijakan, batu yang saya injak akan menggelinding kebawah dan
mengenai pendaki yang berada di bawah. Saya harus konsentrasi dan harus sangat
berhati hati. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 dan Saya sudah berada di
ketinggian 3690 mdpl waktu itu.
![]() |
| Cahaya matahari dari kejauhan sudah mulai memanjakan mata Saya |
Teriakan teriakan dari atas juga sudah
terdengar seperti “ayoo mas kurang sedikit, Semangattt” teriakan – teriakan itu
membuat saya lebih bersemangat. Setelah 30 menit berjalan akhirnya Saya
berhasil berdiri di Puncak Gunung RINJANI dengan ketinggian 3726 mdpl. Saya juga sedikit beruntung karena masih bisa menikmati Sunrise
![]() |
| Melihat mentari yang sama di ketinggian yang berbeda |
![]() |
| Gunung Tambora di kejauhan |
Disana saya mendapat sambutan dari pendaki pendaki lain yang
seperjuangan dengan saya. Juga banyak yang meneteskan air mata disana mungkin
mereka terharu hehehe. Setelah beberapa saat bersalaman dengan pendaki lain,
Dengan alas seadannya saya shalat subuh dan tidak lupa bersykur karena Saya
bisa menginjakkan kaki di atas sana
.
![]() |
| Sunrise |
Setelah itu Saya beberapa kali
mengabadikan momen itu.
![]() |
| Semburan asap dari kawah... |
![]() |
| Para Bule sedang berfoto... |
Setelah puas berfoto, saya duduk di sebuah batu kecil dan menikmati indahnnya pemandangan ciptaan Tuhan ini. Di sini Saya dapat
melihat beberapa gunung Terkenal. Seperti Gunung Agung di Pulau Bali, Gunung
Tambora dan juga bila beruntung kita bisa melihat kokohnnya jejeran pegunungan
Sudirman di Papua dengan Puncak Jaya wijaya nya.
| Diatas awan masih ada awan |
Saya hanya duduk dan menunggu
rombongan yang lain yang masih dibawah. Saya hanya bisa terus mengucapkan
syukur dan terus bersyukur disini. Saya sadar, Saya hanya Makhluk kecil yang
berdiri di luasnnya alam ini. Dengan Mendaki, kita akan sadar betapa kecilnnya
kita di hadapan alam dan di hadapan Tuhan.
| Awan perlahan datang dibawah Saya.. |
Sekitar pukul 07.30 Rombongan Saya semua sudah
berada di puncak. Kemudian kami semua berfoto foto ria.
| Dan saya yang paling Junior |
Waktu itu di Puncak ada sekitar 20 an orang, kebanyakan mereka berasal dari Jawa. Ada yang dari Jakarta, Bekasi dan ada juga dari Medan. Mereka ada dari Traveler dan beberapa ada dari Mahasiswa Pecinta Alam.
![]() |
| Suasana puncak |
![]() |
| Awan yang selalu menyapa ramah.. |
![]() |
| Kamera diatas awan... |
![]() |
| Gunung Agung yang terlihat sangat jauh... |
![]() |
| Suasana puncak |
![]() |
| Pelangi yang berada di bawah.. |
![]() |
| Hanya bisa bersyukur dan bersyukur... |
![]() |
| Suasana Puncak... |
Tidak lupa Saya juga berfoto dengan Bendera Pecinta Alam
Sekolah Saya. Saya bangga bisa membawa Bendera itu ke Puncak Rinjani. Dan Saya
berharap, Bendera itu juga akan di kibarkan di puncak puncak yang lebih tinggi
oleh generasi selanjutnnya. Bendera itu Saya kibarkan juga bersama bendera
Mapala Mapala dan organisasi lainya. Kebetulan juga Saya adalah pendaki yang
termuda waktu itu Kelas 3 SMA. Alhamdulillah di Umur saya saat ini, 18 Tahun
Saya sudah bisa berdiri di Salah Satu Gunung Tertinggi di Indonesia dengan
ketinggian 3726 Meter Diatas Permukaan Laut.
Beberapa momen terbaik di Puncak :D
Duduk bersantai di atas Awan
|
Sebuah perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan. Perjalanan
yang membuat saya belajar banyak tentang arti sebuah perjuangan untuk mencapai
sebuah tujuan. Mencapai sebuah tujuan yang kita inginkan memang tidak mudah,
kita harus melewati rintangan – rintangan yang sulit. Memang banyak rintangan,
tapi kita tidak boleh menyerah. Jika kita berhasil melewati rintangan tersebut,
Percayalah hasil yang kita dapat akan terasa lebih indah dan membanggakan
Perjalanan saya tidak berhenti disini saja. Pukul 09.30 Kami
semua turun ke camp dan akan bermalam lagi dan besoknnya akan menuruni tebing
curam menuju Danau Segara Anakan. Saya akan posting di postingangan selanjutnya
hehehe :D
Wasaalamualaikum …
- Menyebrang ke Gili Trawangan
![]() |
| Perjalanan turun yang mencekam.. |
| Segara Anak |





























wah keren gan .. ini blog memang mantep
BalasHapus