Sabtu, 20 Februari 2016

Trip To Rinjani







Gunung Rinjani adalah gunung yang terletak di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini adalah gunung berapi tertinggi nomor 2 di Indonesia dengan ketinggian 3726mdpl setelah Gunung Kerinci.Ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya.

Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya mendaki puncak Dewi Anjani tersebut. Persiapan saya terbilang sangat mendadak, karena saya diajak oleh bibi saya hanya sekitar 1 bulan sebelum pendakian. Awalnya saya ragu – ragu, karena pendakian dimulai tanggal 13 Desember dan sangat mepet sama Ulangan Semester. Tapi setelah saya pikirkan lagi, ini adalah kesempatan saya untuk mencari pengalaman di Gunung tersebut.

Persiapan mulai saya lakukan, mulai dari peralatan seperti tongkat gunung, sarung tangan, jaket gunung, sepatu, sandal sleeping bag, syal, tas carier dan masih banyak lagi. Bukan hanya persiapan peralatan saja, persiapan fisik terbilang sangat penting bila ingin sampai puncak Rinjani ini, mulai dari joging setiap pagi hari dan makan yang teratur.

Setelah Ulangan Semester selesai, dan sudah menyelesaikan beberapa pelajaran yang remidi, saya mulai bersiap siap barang yang akan saya bawa. Di setiap pendakian, packing yang benar juga sangat penting untuk
kelancaran saat kita mendaki.

Jum’at 12 Desember sore, saya berangkat ke Surabaya, dan menginap di rumah saudara saya yang ada di Surabaya sebelum besoknya Terbang menuju Pulau Lombok.

Sabtu 13 Desember,
Setelah sarapan dan mengecek barang bawaan saya, saya berangkat Ke Bandara Juanda sekitar pukul 07.00 WIB. Saya sudah janjian dengan rombongan dari Kota Jember bertemu di bandara. Sekitar pukul 10.00 WIB 

@Bandara Juanda Surabaya
Carrier Saya yang ijo paling Kecil hehehe
Lion Air

Selamat Jalan Surabaya

Saya terbang dengan rombongan menuju Pulau Lombok. Kita sampai Di pulau Lombok Sekitar Jam 12.00 WIT, setelah sampai kita dijemput Travel yang sudah dipesan beberapa hari lalu. Kami langsung diantar menuju Swalayan yang berada di kota Mataram. Disana kita membeli keperluan makanan yang akan dibawa ke atas. Setelah selesai kami langsung menuju Desa Sembalun. Desa Sembalun terletak di kaki Gunung Rinjani, perjalanan kami tempuh sekitar 4 jam dari bandara. Sebenarnya normal perjalanan sekitar 3 jam,  tapi kami harus membeli perbekalan yang harus dibawa ke atas.
Selamat Datang Di LOMBOK
Ada 2 rute yang bisa dilalui menuju puncak Rinjani, yaitu dari Sembalun dan Senaru. Kami memilih jalur Sembalun dan mengakhiri lewat jalur Senaru.
Suasana dalam elf


seger broo..
Perjalanan menuju pos Sembalun, kami disuguhi pemandangan yang sangat bagus dan indah. Mata kami disuguhi bukit-bikut yang menjulang tinggi sepanjang perjalanan ke Pos Sembalun.
Setelah sampai, kami mengisi daftar hadir di Pos Pendakian Sembalun. Setelah urusan administrasi selesai kami langsung mencari homestay untuk beristirahat dan besoknya melakukan pendakian. Desa Sembalun berada di ketinggian sekitar 1150 mdpl. Pada malam hari bintang terlihat sangat banyak dan sangat indah. Momen ini tidak bisa saya jumpai di tempat biasa, apalagi di rumah saya :D.
Malam harinnya kami mencari makan malam di sekitar Pos sembalu, kami makan di sebuah warung yang bernama “Warung Bambu”. Disana kami bertemu warga setempat yang berasal dari Kota Batu, Malang. Tidak mengira saya bertemu orang jawa disini..hehehe. Orang disana biasa memanggilnya “pakdhe”. Kami berbincang – bincang dengan pakdhe cukup lama, pakdhe menasihati kami supaya biar aman mendaki Gunung Rinjani ini. Pakdhe juga berpesan hati – hati bila berada di Pos Plawangan/camp terakhir, karena disana banyak pendaki kehilangan barangnnya ketika mendaki ke puncak. setelah itu pakdhe menawarkan porter kepada kami. Porter adalah  orang-orang yang dibayar untuk membantu membawa barang-barang para pendaki pada saat melakukan aktivitas pendakian gunung. Seringkali porter juga bertugas untuk menyiapkan makanan pada saat pendakian dan bisa menjaga barang kami ketika kami Summit Attack(mendaki ke puncak).  Singkatnya, tugas porter adalah melayani para pendaki yang telah membayar mereka. Awalnya kami tidak ingin membawa porter, tapi setelah mendengar cerita dari Pakdhe, kami berencana menyewa porter. Setelah itu Pakdhe langsung mencarikan porter di daerah Pos Sembalun. Biasannya porter adalah orang yang tinggal disekitar situ dan juga sering mengantarkan para pendaki ke Puncak. Tidak beberapa lama Pakdhe mengenalkan kita kepada porter tersebut. Biayannya sekitar Rp.150.000 per hari, Biaya segitu sudah normal. Suatu pendakian harus mengutamakan Keselamatan dan keamanan, semua itu harus diutamakan supaya kita bisa berhasil/sukses dalam suatu pendakian.

Minggu 14 Desember,


Persiapan...

Para penembus Vegetasi mulai menjalankan misi :D
Setelah sarapan kita bersiap-siap melakukan pendakian. Setelah berdoa kami mulai berjalan dari Pos Sembalun menuju Pos 1, kami didampingi satu porter yang kami sewa kemarin malam.Porter itu membawa 1 tas carrier. Biasannya porter membawa lebih, bahkan sampai 25 kg. Dari Pos Sembalun(pos terakhir) menuju Pos 1 kami tempuh sekitar 3,5 jam. Perjalanan ke pos 1 kami melewati padang yang sangat luas. Sepajang jalur ini kita hanya melewati padang rumput yang mendaki dan menurun sesekali menyeberangi sungai yang kering serta beberapa pohohn cemara gunung.
 
Salah satu Rombongan kami Mas Wawan meminta porter untuk menunjukkan jalan yang memotong/jalan pintas. Memang Mas Wawan sudah pernah naik Rinjani, bisa disebut Mas Wawan adalah Leader kami. Memang jalan yang memotong ini lebih pendek, tapi kami harus melewati jembatan yang sangat curam dan terbilang extream. Sebagai pendaki pemula, saya hannya membawa 1 tas carrier. Sebenarnnya saya mejuga membawa 1 daypack/tas kecil. Daypack saya dibawa oleh Mas Yossi, salah satu rombongan kami yang mempunnyai tenaga super :D. Setelah melewati jembatan yang curam itu, kami beristirahat di tengah padang savanna yang sangat luas.

Isrtirahat di Padang Savana
Puncak Anjani yang menyimpan banya cerita...
Disini kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah dan menaruh beban kami yang ada di punggung. Disini Puncak Dewi Anjani terlihat sangat gagah. Sempat terpikir di benak saya,”apakah saya nanti bisa berdiri di Puncak itu?” Tapi saya terus berpikir positif dan terus semangat. Setelah beristirahat dan sedikit berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Pemandangan yang sangat indah di Padang Savana seakan menghilangkan rasa capek akan beban berat di punggung. Sekitar pukul 10.00 WITA kami sampai di pos 1. Disana kami disambut kabut yang sudah mulai turun. Udara terasa sangat dingin disini. Memang Bulan Desember adalah bulan yang sebenarnnya tidak cocok digunakan untuk mendaki, karena factor cuaca dan musim hujan. Disini kami bertemu dengan Bang Ilyas, dia adalah traveler/backpacker. Dia berasal dari Kota Medan. Dari Medan dia naik sepeda motor menuju Pulau Lombok ini. Saya sempat kaget, bagaimana tidak medan – Lombok sekitar 700 km. dan ditempuh sekitar 7 hari lebih (itu jika tidak istirahat). Akhirnnya Mas Wawan mengajak Bang Ilyas untuk ikut di rombongan kami. Setelah Beristirahat sekitar 30 menit kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2.

Dari Pos 1 Ke Pos 2. Jalur dari pos ini ke Pos II masih sedikit menanjak dan curam. Berbeda dengan perjalanan ke pos 1. Perjalanan ke Pos 2 kami ditemani kabut yang sangat tebal dan angin yang bertiup kencang. Sampai – sampai suara angin pun bisa terdengar ditelinga kita.  Kami melewati sungai aliran lahar dingin yang kebetulan kering. Kami juga melewati jembatan dengan pemandangan tebing – tebing yang sangat indah, tapi jangan sampai menengok ke bawah, bisa – bisa kita merinding melihatnnya. Karena jika kita melihat kebawah, kedalaman sungai cukup dalam sekitar 20 meter. Disini saya sempat beristirahat di jembatan itu, sedikit melepas lelah dan meminum air mineral yang saya bawa untuk menambah tenaga.Sekitar pukul 11.00 saya sudah berada di Pos 2. Di pos 2 pos peristirahatan cukup luas dan jika tidak ada kabut kita bisa melihat desa sembalun. Karena kabut dan pos itu ramai, saya langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Dari Pos 1 menuju Pos 2 saya tempuh sekitar 1 jam.

Dari Pos 2 menuju ke Pos 3 kita akan bertemu sebuah persimpangan jalan yang memisahkan jalur ke Bukit Penyesalan (kanan) dan ke Bukit Penyiksaan/penderitaan (kiri). #namannya serem broo.. Mengapa dinamakan bukit pennyesalan? Karena jika kita mendaki melewati bukit ini kita akan merasa menyesal telah mendaki Rinjani karena rute yang dilewati sangatlah panjang. Dan Mengapa diberi nama Bukit Penyiksaan/penderitaan?? Karena jika kita mendaki bukit ini kita akan merasa tersiksa dan menderita.
Saat ini jalur yang sering dipakai adalah bukit penyiksaan, karena jalur bukit penyesalan jembatannya sudah hancur dan jalan setapaknya sudah tidak begitu jelas. Di pos ini kita bisa jumpai sumber mata air dan sebuah toilet yang merupakan hasil sumbangan dari sebuah LSM asal New Zealand. Pos nya sendiri letaknya disebuah lembah yang diapit bukit.  Perjalanan menuju Pos 3 kami masih ditemani kabut yang tebal, gerimis pun mulai ikut – ikutan menemani perjalanan saya. Ada juga disaat kabut mulai menghilang, ternyata pemandangan bila disaat tidak ada kabut sangatlah indah. Di mulut saya terus terucap subhanallah… subhanallah… subhanallah… begitu indah alam yang engkau ciptakan ini ya Allah. Beberapa kali saya beristirahat di atas tebing melihat keindahan-keindahan yang tidak setiap saat bisa saya nikmati. Setelah kabut mulai menutupi keindahan-keindahan itu saya pun melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Saya tiba di Pos 3 sekitar pukul 13.00 WITA. 2 jam dari Pos 2 menuju Pos 3. Disini kami UnGroup (…….) dan menunggu rombongan kami yang ada di belakang. Disini kami makan siang, menyeduh kopi dan shalat. Setelah beristirahat cukup lama sekitar 1 jam, kami melanjutkan perjalanan menuju camp terakhir’PosPlawangan.


duduk menikmati kopi di pos sambil bercanda

 Eits.. jangan senang dulu, disinilah kita akan melewati 9 Bukit Penyiksaan itu (tanjakan bukit Sembilan). Di bukit penyiksaan tidak ada bonus track. Disini kita diharuskan mendaki di kemiringan yang sangat extream/curam. Dan disinilah penyiksaan/penderitaan dimulai. Mas Wawan juga menyebutnya Bukit PHP (Pemberi Harapan Palsu). Karena kita akan dihadapkan dengan puncak semu. Puncak semu adalah, jika kita melihat di atas kita akan bersyukur karena sudah hampir sampai puncak dari bukit itu. Ternyata tidak, diatas puncak tersebut masih ada puncak lagi, lagi lagi dan lagi, pokoknya sampai 9 puncak harus kita lewati. Apalagi cuaca waktu itu hujan cukup seras dan petir menyambar dimana – mana. Saya langsung memakai jas hujan yang saya siapkan. Setelah 3 jam Mendaki Bukit penyiksaan itu saya sampai di puncak ke 7. Disana sudah menunggu Mas Wawan Dan Bang ilyas. Saya beristirahat disitu, sambil menunaikan shalat ashar di ketinggian sekitar 2500 mdpl (meter diatas permukaan laut).
Sepatu isinua pasir semua itu  :D
Disini saya bertemu dengan pendaki lain dari Jakarta dan Palembang. Setelah beberapa menut beristirahat, saya disuruh duluan sama Mas Wawan karena diatas sudah menunggu porter kami yang sedang mempersiapkan tenda dan lain-lain. Mungkin porter kami sudah sampai duluan sekitar jam 15.00 WITA. Saya, Bang Ilyas dan Pendaki dari Jakarta langsung melanjutkan perjalanan. Dari sini saya mengira Pos Plawangan sudah dekat, karena sudah kelihatan. Tapi ternyata oh ternyata 2 bukit yang tersisa tidaklah mudah di daki. Medan yang licin dan kemiringan yang extreme membuat kami harus berhati-hati berpijak. Karena kalau sampai salah kami akan terperosok ke dasar jurang yang tidak kelihatan dasarnya. Setelah 1 jam kami sudah menaklukkan 8 bukit penyiksaan itu. Di puncak bukit ke 8 kami beristirahat sejenak dan melihat sunset (matahari terbenam). Tiba – Tiba dari atas, Saya melihat porter kami kembali turun ke bawah dengan tergesa – gesa. Ternyata porter itu mendapat musibah, bahwa neneknnya meninggal dunia dan dia harus turun kembali ke bawah. Saya sempat kaget, karena jika turun kami akan kebingungan siapa yang akan membawa Tas Carrier besar yang dititipkan porter tadi. Tapia pa boleh buat, yang namannya musibah bisa datang kapan saja tanpa permisi. Dengan sangat cepat porter itu menuruni bukit penyiksaan dan akan berpamitan kemada Leader kami Mas Wawan yang ada dibawah. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Plawangan yang tinggal melewati 1 bukit lagi. Cuaca mulai gelap dan kami bertiga tidak ada yang membawa senter. Dan saya memutuskan untuk menunggu rombongan yang lain yang berada di bawah yang membawa senter. Bang Ilyas Dan Pendaki dari Jakarta itu nekat melanjutkan perjalanan.
Disinilah titik dimana saya sendirian, ditengah hutan, kanan-kiri jurang di malam hari pula. Jujur disinilah saya merasa ketakutan dan mental saya sangat down apalagi fisik saya sudah hampir mencapai batasnnya. Mau naik jalan tidak kelihatan, karena bebatuan dan salah sedikit sudah masuk jurang. Dan jika saya turun, jalan juga sama sekali tidak kelihatan. Akhirnya saya disini hanya berdiam diri menunggu rombongan saya di belakang. Ditambah carrier yang saya bawa tidak bisa saya letakkan sembarangan, karena jika jatuh akan menggelinding ke dasar jurang. Apa boleh buat, saya menunggu rombongan sambil membawa tas carrier yang saya bawa. Tetapi disinilah juga saya berpikir, kita tidak bisa hidup sendirian di dunia ini, kita selalu membutuhkan orang lain untuk membantu hidup kita. Orang yang egois dan mementingkan diri sendiri dan seolah-olah tidak butuh orang lain adalah orang yang sombong dan tidak pernah mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepadannya. Itulah yang saya renungkan di tempat yang sunyi itu. Tapi saya tidak patah semangat, saya harus terus berpikir positif. Tujuan awal saya mendaki disini adalah menggapai Puncak Rinjani dan mengibarkan berndera PANDHIKA. Dari awal memang saya tau resiko – resiko yang akan saya terima.
Setelah sekitar 45 menit saya sendiri, saya melihat senter dari kejauhan. Lama – lama senter itu mulai mendekat kepada saya. Ternyata itu Mbak Sari (Bibi Saya) dan Mas Yudi salah satu rombongan saya. Lega rasannya setelah bertemu rombongan. Di bawah masih ada Mas Wawan, Mas Hanan dan Mbak Mevi. Sedikit cerita, Mas Hanan dan Mbak Mevi adalah suami istri yang baru 7 hari menikah dan berbulan madu Di Puncak Rinjani.

Setelah bergabung dengan rombongan, saya melanjutkan perjalanan. Setelah 10 menit berjalan kami diahadapkan 2 jalur yang membingungkan. Disinilah manfaat pengetauan mendaki digunakan, sebagai leader Mas Wawan memutuskan berbelok kiri. Tentu bukan tanpa alasan, pertama, ada sampah permen di jalur kiri. Dan yang kedua, rumput berbelok ke arah depan, tandannya sudah ada orang yang lewat situ. Ternyata benar, jalur yang kami pilih menujun Pos Plawangan. Akhirnya kami bisa menuntaskan melewati 9 bukit penyiksaan. Kami tiba di Pos Plawangan sekitar pukul 20.00 WITA. Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos Plawangan/camp terakhir saya tempuh 6 jam. Padahal normal 4 jam.
Di Pos Plawangan, 2 tenda sudah disiapkan oleh porter kami yang turun tadi. Akhirnya beban yang dari tadi berada di punggung saya sudah terlepas, Lega rasannya bisa terlepas dari beban yang menempel selama 13 Jam perjalanan melewati segala trek yang curam dan extream.Pos Plawangan terletak pada ketinggian 2639 mdpl. Pos Plawangan juga tempat yang tepat untuk mendirikan tenda karena mempunnyai daratan yang cukup luas untuk beberapa tenda yang terletak diatas gigiran punggungan yang menyatukan dengan punggungan menuju puncak. Dari sini kita dapat melihat Danau Segara Anakan Dan gunung Barujari. Kita juga dapat melihat Puncak Rinjani yang berdiri kokoh. Disini sangat banyak monyet liar berkeliaran, dan hati – hati jangan sampai menaruh makanan sembarangan di luar tenda, karena monyet sangat agresif untuk merebut makanan setiap pendaki lengah.
Pukul 21.00, kami mulai memasak makanan yang kami bawa, dengan kompor gunung dan nesting, kami memasak sayur bening waktu itu. Setelah makan dan Sholat Kami langsung beristirahat.

Senin, 15 Desember 

Puncak Anjani yang masih malu malu tertutup awan...

tempat tinggal selama 5 hari di sini :D


Pagi itu Saya bangun kesiangan sekitar pukul 08..00, Mungkin saking capeknya. Suasana di Camp Plawangan Sembalun cukup segar waktu itu. Saya langsung membuka tenda saya yang sudah sedikit terbuka karena beberapa rombongan saya sudah keluar dari pagi untuk mengambil Gambar. Memang banyak yang bilang disini view nya sangat bagus. Dari sini saya bisa melihat Danau Segara anakan yang masih sedikit berselimut kabut. Sinar Matahari belum menyentuh tubuh saya karena matahari masih tertutup Puncak Rinjani yang sangat tinggi. Setelah menyeduh kopi sambil menikmati pemandangan di Camp ini, Kami langsung masak untuk sarapan pagi.

Masak bro

Setelah sarapan saya langsung pergi ke bukit sebelah camp untuk melihat view danau segara anakan dari sisi yang berbeda dan langsung jeprat jepret disana. Memang beberapa kali Danau nya tertutup awan yang menyelimutinnya. Ini beberapa foto yang berhasil Kami ambil :


Puncak yang terlihat jelas...

Danau segara anakan


cool

DAnau diatas Awan..


Jarang selfie, sekali selfie mesti di Gunung :D





Kekonyolan Kami :D

Bukan 5 cm
Action dulu :D

Pagi yang indah..

Pukul 10.00 pagi, kabut mulai menutupi camp kami. Bulan Desember memang musimnya hujan…

Kabut mulai menyerang...
Jam 10 pagi masih dingin vrooh..
Setelah shalat dan makan siang, kami semua beristirahat lagi untuk mempersiapkan fisik karena malam nanti kita akan Summit Attack pukul 00.00. Pukul 18.00 kami di brifing untuk summit attack malam nanti. Semua barang yang tidak penting, seperti tas carrier kami tinggalkan di tenda. Kami hanya membawa barang yang penting’-penting saja seperti, headlamp, kupluk, masker, tongkat, p3k , daypak dan harus memakai jaket tebal dan sepatu. Waktu itu saya memakai baju dan jaket rangkap 4 dan celana rangkap 2 dan kaos kaki pun rangkap 2 :D. Maklum lah ini pertama kali Saya Summit attack di gunung yang ketinggiannya lebih dari 3000 mdpl. Waktu itu udara sangat dingin kira kira sekitar 11 derajat celcius di Plawangan Sembalun. Saya belum bisa membayangkan bagaimana dinginnya di atas nanti. Perbekalan air juga sangat penting. Kita harus bisa mengira-ngira seberapa banyak air yang kita bawa nanti. Jika terlalu banyak, itu akan membebani tas daypak yang kita bawa. Setelah brifing, kami kembali beristirahat lagi dan harus bangun pukul23.30 nanti untuk mempersiapkan Summit Attack.

Selasa 15 Desember
Dan waktunnya kami harus Summit Attack. Sedikit penjelasan, Summit Attack adalah titik pendakian yang paling sulit. Disini barang – barang dan tas carier kita ditinggal di tenda. Kita hanya membawa tongkat dan daypak/tas kecil. Karena trek yang dilewati lebih sulit dari sebelumnya, yaitu trek berpasir dan berbatu

Setelah semuannya sudah benar benar siap, kami berpamitan kepada pendaki lain untuk summit dan meminta untuk menjaga tenda kami karena porter yang kami bawa turun duluan. Sebelum summit kami tidak lupa memanjatkan doa semoga perjalanan kami nanti berjalan lancar tanpa ada halangan dan semoga semua rombongan kami berhasil berdiri diatas ketinggian 3727 mdpl di Puncak Dewi Anjani. Jujur saja waktu itu saya masih sedikit takut karena cuaca juga bisa berubah sewaktu waktu. Tapi Saya ingat niat awal Saya, Saya ingin menaklukkan Gunung ini dengan usaha dan tenaga saya sendiri.

Headlamp saya nyalakan tongkat sudah saya pegang dan Bissmillah perjalanan Summit Attack dimulai. Perjalanan waktu itu cukup sepi, karena hannya rombongan kami yang berangkat duluan. Pertama kami harus melewati bukit bukit yang lumayan curam. Udara cukup mendukung waktu itu, Bulan dan bintang terlihat jelas diatas Saya. Trek yang Saya lewati sudah mulai berpasir dan cukup licin. Ini menandakan bahwa, saya akan melewati Batas vegetasi. Batas vegetasi adalah dimana kita akan melewati batas tanaman dan pohon. Di titik ini kita harus bisa menyesuaikan udara dan suhu tubuh, karena biasannya setelah kita melewati batas vegetasi, suhu akan berubah drastis dan sangat dingin. Sebelum melewatinnya, saya menunggu Mas Yudi, Salah satu rombongan Saya.

Ketawa terakhir sebelum Melewati batas Vegetasi
 Saya tidak berani melewati batas vegetasi sendirian karena setelah batas Vegetasi kita tidak menemukan tanaman ataupun pohon dan hanyya pasir dan batu yang kita lewati. Kita harus bisa menyesiaikan keadaan suhu tubuh dan udara atau biasa disebut Proses Aklimatisasi. Proses Aklimatisasi sangat penting jika kita akan mendaki gunung. Jika kita tidak bisa menyesuaikan, kita akan terkena penyakit Hipotermia. Hipotermia adalah kondisi dimana tubuh kita tidak bisa menyesuaikan suhu di luar. Penyakit ini paling ditakuti setiap pendaki gunung, karena bila salah penanganan sang penderita akan langsung meninggal di tempat, Sunyinya batas vegetasi itu pun sedikit membuat Saya merinding juga. Setelah istirahat sejenak Kami berdua melanjutkan perjalanan. Rombongan yang lain masih jauh berada di belakang. Hanya Saya dan Mas Yudi yang berada di garis terdepan. Saya merasakan suhu yang perlahan berubah menjadi sangat dingin dan Angin cukup kencang. Tidak terasa Batas Vegetasi sudah saya lewati, sakarang kami dihadapkan dengan trek yang berpasir dan berbatu. Saya beberapa kali berhenti sejenak untuk menyesuaikan suhu tubuh saya. Mas yudi pun sudah mulai tidak terlihat di depan. Beberapa kali saya meminum air yang saya bawa.

Disini saya juga haris bisa memilih pijakan yang tepat, jika tidak Saya akan terperosok ke bawah. Ditambah lagi trek yang saya lewati hanya memiliki lebar sekitar 5-7 meter jadi jika saya terlalu berjalan ke pinggir juga sangat berbahaya, memang benar kata orang, Pada saat summit di Rinjani angin pun bisa menjadi penentu hidup dan mati kita. Perlahan dan perlahan saya berjalan naik. Waktu sudah menunjukkan 13.30 waktu itu, Saya sudah berada di ketinggian 3450 mdpl. Saya beristirahat cukup lama disini. Disini saya bisa melihat senter-senter para pendaki lain di bawah sana. Saya juga bisa melihat kota Lombok di jauh sana. Dan yang paling membuat saya senang adalah saya bisa melihat laut di kejauhan. Setelah beberapa menit saya beristirahat, Saya perlahan melanjutkan perjalanan. Hanya bulan dan bintang yang setia menemani perjalanan Saya waktu itu. 

Di ketinggian 3600 saya berada di titik dimana kondisi fisik Saya yang sudah mulai habis dan batrai Senter pun sudah mulai habis. Disitulah saya berfikir Saya tidak bisa melanjtkan perjalanan itu. Saya cukup lama istirahat disitu sekita 30 menit lebih. Dari kejauhan saya melihat pendaki lain yang juga berusaha menaklukkan gunung ini. Kebetulan dia salah Satu mahasiswa dari sebuah universitas di Yogyakarta. Dia duduk di sebelah Saya sembari beristirahat. Dia adalah salah satu MAPALA yang menjalankan misi Menaklukkan 7 Puncak tertinggi di Indonesia. Dia bercerita bannyak tentang pengalaman nya mendaki Gunung. Dia mengatakan Mendaki gunung itu bukan hannya tentang fisik dan kelengkapan peralatan, tapi juga tentang Mental dan Motivasi. Disini kita akan mengetahui seberapa besar motivasi kita untuk menaklukkan sebuah puncak. Disini saya belajar banyak tentang mendaki Gunung. Setelah sekitar 30 menit dia beristirahat, dia berpamitan melanjutkan perjalanan. Dan Saya masih berpikir kalau saya akan turun. Setelah beberapa saat Saya ingat kata kata dari “Edmund Hillary” yaitu Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri” dan kata kata itu membuat saya lebih termotivasi untuk menaklukkan Puncak Dewi Anjani ini. Saya mempersiapkan fisik dan mental saya lagi. Saya berdiri dan perlahan melangkahkan kaki saya kedepan. Bulan dan bintang masih menemani perjalanan saya. Setelah berjalan cukup lama, Puncak Rinjani sudah terihat. Bendera merah Putih pun sudah terlihat berkibar disana. Tapi trek yang Saya lewati juga bertambah licin dan banyak batu. Ditambah lagi belakang saya juga sudah terlihat pendaki yang lain. Jika saya salah mengambil pijakan, batu yang saya injak akan menggelinding kebawah dan mengenai pendaki yang berada di bawah. Saya harus konsentrasi dan harus sangat berhati hati. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 dan Saya sudah berada di ketinggian 3690 mdpl waktu itu.
Cahaya matahari dari kejauhan sudah mulai memanjakan mata Saya
Teriakan teriakan dari atas juga sudah terdengar seperti “ayoo mas kurang sedikit, Semangattt” teriakan – teriakan itu membuat saya lebih bersemangat. Setelah 30 menit berjalan akhirnya Saya berhasil berdiri di Puncak Gunung RINJANI dengan ketinggian 3726 mdpl. Saya juga sedikit beruntung karena masih bisa menikmati Sunrise

Melihat mentari yang sama di ketinggian yang berbeda

Gunung Tambora di kejauhan
Disana saya mendapat sambutan dari pendaki pendaki lain yang seperjuangan dengan saya. Juga banyak yang meneteskan air mata disana mungkin mereka terharu hehehe. Setelah beberapa saat bersalaman dengan pendaki lain, Dengan alas seadannya saya shalat subuh dan tidak lupa bersykur karena Saya bisa menginjakkan kaki di atas sana
 
.

Sunrise
 Setelah itu Saya beberapa kali mengabadikan momen itu. 

Semburan asap dari kawah...

Para Bule sedang berfoto...

Setelah puas berfoto, saya duduk di sebuah batu kecil dan menikmati indahnnya pemandangan ciptaan Tuhan ini. Di sini Saya dapat melihat beberapa gunung Terkenal. Seperti Gunung Agung di Pulau Bali, Gunung Tambora dan juga bila beruntung kita bisa melihat kokohnnya jejeran pegunungan Sudirman di Papua dengan Puncak Jaya wijaya nya.

Diatas awan masih ada awan
 Saya hanya duduk dan menunggu rombongan yang lain yang masih dibawah. Saya hanya bisa terus mengucapkan syukur dan terus bersyukur disini. Saya sadar, Saya hanya Makhluk kecil yang berdiri di luasnnya alam ini. Dengan Mendaki, kita akan sadar betapa kecilnnya kita di hadapan alam dan di hadapan Tuhan. 

Awan perlahan datang dibawah Saya..

Sekitar pukul 07.30 Rombongan Saya semua sudah berada di puncak. Kemudian kami semua berfoto foto ria.

Dan saya yang paling Junior
 Waktu itu di Puncak ada sekitar 20 an orang, kebanyakan mereka berasal dari Jawa. Ada yang dari Jakarta, Bekasi dan ada juga dari Medan. Mereka ada dari Traveler dan beberapa ada dari Mahasiswa Pecinta Alam.

Suasana puncak

Awan yang selalu menyapa ramah..

Kamera diatas awan...



Gunung Agung yang terlihat sangat jauh...

Suasana puncak




Pelangi yang berada di bawah..

Hanya bisa bersyukur dan bersyukur...

Suasana Puncak...

Tidak lupa Saya juga berfoto dengan Bendera Pecinta Alam Sekolah Saya. Saya bangga bisa membawa Bendera itu ke Puncak Rinjani. Dan Saya berharap, Bendera itu juga akan di kibarkan di puncak puncak yang lebih tinggi oleh generasi selanjutnnya. Bendera itu Saya kibarkan juga bersama bendera Mapala Mapala dan organisasi lainya. Kebetulan juga Saya adalah pendaki yang termuda waktu itu Kelas 3 SMA. Alhamdulillah di Umur saya saat ini, 18 Tahun Saya sudah bisa berdiri di Salah Satu Gunung Tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3726 Meter Diatas Permukaan Laut.







Beberapa momen terbaik di Puncak :D

Duduk bersantai di atas Awan



Pertama kali selfie dengan tongsis (True Story)

selfie itu disini broo :D
                                                    


Sebuah perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan. Perjalanan yang membuat saya belajar banyak tentang arti sebuah perjuangan untuk mencapai sebuah tujuan. Mencapai sebuah tujuan yang kita inginkan memang tidak mudah, kita harus melewati rintangan – rintangan yang sulit. Memang banyak rintangan, tapi kita tidak boleh menyerah. Jika kita berhasil melewati rintangan tersebut, Percayalah hasil yang kita dapat akan terasa lebih indah dan membanggakan

Perjalanan saya tidak berhenti disini saja. Pukul 09.30 Kami semua turun ke camp dan akan bermalam lagi dan besoknnya akan menuruni tebing curam menuju Danau Segara Anakan. Saya akan posting di postingangan selanjutnya hehehe :D

Wasaalamualaikum …



Nantikan postingan Selanjutnya :D : - Menikmati Danau Surganya Rinjani
                                                       - Menyebrang ke Gili Trawangan
Perjalanan turun yang mencekam..

                                                   







Segara Anak










1 komentar: