Sabtu, 14 Maret 2015

Kawah Ijen



Assalamualaikum wr.wb…
Di postingan kali ini, saya akan bercerita tentang pengalaman saya berkunjung ke Kawah Ijen
Gunung Ijen adalah sebuah Gunung Berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan telah empat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936). Untuk mendaki ke gunung ini bisa berangkat dari Bondowoso ataupun dari Banyuwangi.

Waktu itu, liburan semester sudah berjalan selama 2 hari dan saya hanya bermalas-malasan dirumah. Mau main tapi bingung mau kemana, dirumah juga bosan. Kemudian muncul di benak saya, saya ingin mengunjungi Nenek saya Di Kabupaten Jember. Karena orang tua saya sibuk dengan pekerjaannya saya sempat mengurungkan niat waktu itu. Akhirnya saya mengajak teman saya Wahyu untuk pergi, awalnya dia masih berpikir, lalu besoknya
dia mau berangkat. Setelah ijin ke Orang Tua saya berangkat hari Kamis.

Sekitar pukul 7 pagi, kami berangkat ke Stasiun Tulungagung. Perjalanan menuju Kota Jember sekitar 10 jam. Kami naik kereta jurusan Malang ( Kereta Dhoho Penataran) terlebih dahulu, Biaya cukup murah, hanya Rp. 5.500. Kami tiba di Malang Sekitar jam 1 siang, di Stasiun Malang Kota. Lau kami langsung membeli tiket kereta menuju Jember, Waktu itu kami membeli tiket kereta Tawang Alun. Kereta Berangkat pukul 14.00. Setelah Shalat di dalam stasiun, kami berangkat menuju Jember. Suasana kereta cukup nyaman dan terlihat lengang. Berbeda dengan kereta Dhoho Penataran yang ramai dan sumpek karena banyaknya pedagang. Kereta TawangAlun ini tidak membolehkan pengamen atau pedagang dari luar. Mereka menjual makanan dari dalam (dari kereta api tersebut). Biaya dari Malang Ke Jember sekitar Rp.55.000. Pukul 19.00 kami sampai di Stasiun Kota Jember. Kami langsung menuju rumah Nenek saya yang tidak jauh dari Stasiun Kota Jember. Setelah sampai disana, kami shalat, beristirahat dan memikirkan apa yang akan kita lakukan besok hari #masihmikir :D.

Paginnya setelah Shalat Subuh, kami jalan – jalan di kota Jember (kota kelahiran saya ), kami hanya berjalan – jalan di alun – alun, menikmati kesejukan kota Jember yang terbilang masih asri. Malam harinnya, Bibi saya bertannya kepada kami.. ‘’Kalian rencanannya Mau Kemana ?’’ saya hanya menjawab ‘’masih bingung’’, karena pada awalnnya saya kesini hanya ingin mengunjngi Nenek saya. Lalu Bibi saya menawarkan 2 pilihan, ‘’jika mau kalian ikut bibi besok ke Arum Jeram di Lumajang atau ikut rombongan mapala mendaki gunung Penanggungan di Pasuruan’’ Awalnnya saya berpikir, jika ikut Arum Jeram saya masih belum bisa berenang dengan baik :D, dan jika mendaki ke Gunung Penanggungan saya masih belum ada persiapan. Lalu saya berpikir, Di Bondowoso ada kawah yang terkenal dengan Api Biru nya ( Blue Fire ) dan hanya ada 2 di Dunia, Di Indonesia dan Di finlandia. Akhirnnya bibi saya menelpon temannya untuk mengantarkan kami berdua di Kawah Ijen. Dan temannya bersedia berangkat pukul 9 Malam waktuy itu, kami langsung mencari dan menyiapkan barang apa saja yang akan kami bawa, seperti senter, jas hujan, masker, jaket, makanan kecil dll.

Setelah selesai, kami dijemput oleh teman Bibi saya, dan kami langsung berangkat Menuju Pos Pendakian di Kota Bondowoso. Kami sampai di pos perijinan sekitar pukul 00.00 dini hari, dan sampai parkiran sekitar pukul 00.15 malam. Setelah menyeduh kopi hangat khas Pegunungan Ijen, kami berdua memutuskan berangkat pukul01.00 dini hari. Udara sangat dingin di sini, itupun kami masih belum trekking. Jaket yang saya gunakan tidak kuat mengatasi dingin malam itu. Walaupun begitu kami harus tetap berangkat untuk mengejar Blue Fire. Kami hanya daik berdua, dan Teman Bibi saya menunggu di mobil.Setelah berdoa kami berangkat.


Trek cukup berat, karena kami langsung disuruh melewati trek menanjak sekitar 25-35 derajat, dan berpasir pula. Apalagi di sepanjang jalur pendakian hanya kami berdua yang ngetrek, tidak ada seorangpu. Beberapa kali KAmi beristirahat untuk menyesuaikan hawa dingin dan mengatur nafas. Setelah 1.5 jam berjalan kami tiba di Pondok Bunder, disana kami bertemu pendaki lain yang juga sedang beristirahat. Akhirnya kami bersama-sama berangkat ke Kawah Gunung Ijen. Semakin keatas semakin dingin udara terasa disana, apalagi senter yang kami bawa batrainya juga hamper habis, tapi untungnya cuaca sangat cerah, dan kami hanya disenteri oleh cahya bulan yang sangat terang. Setelah 3 jam berjalan dari Pos terakhir, kami sudah berada di Kawah Ijen atau berada di ketinggian sekitar 2.799 mdpl. Ini adalah ketinggian pertama yang saya capai (waktu itu kelas 2 SMA)

Disini kami melihat keindahan Kawah Ijen, beberapa saat mengeluarkan api biru (blue fire) yang sangat indah. Tapi belerang sangat menyengat, jika terkena mata akan sangat perih, dan jika terkena hidung kita akan sulit bernafas. Setelah minum dan beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk turun ke Kawah, sebenarnya dilarang keras untuk turun ke kawah, kecuali membawa Guide (penunjuk arah). Karena jalur menuju kawah, sangat curam dan sangat rawan longsor. Entah apa yang kami pikirkan waktu itu, kami memutuskan turun ke Kawah tanpa memakai Guide. Memang trek sangat curam dan membingungkan. Kami berusaha mencari jalan turun ke kawah tapi tidak ketemu, kami malah terkena belerang Kawah Ijen yang berhembus kencang karena angin. Jika belerang menuju kea rah kami, kami hannya bias berlindung di batu. Setelah berpurtar – putar sekitar 45 menit, kami memutuskan untuk kembali ke batas aman diatas. Tapi apesnnya kami juga tidak menemukan jalan menuju ke batas aman di atas. Kami berdua terus mencari dan mencari secara hati – hati, karena kalau tidak hati-hati atau salah menginjak batu, batu besar itu akan longsor ke bawah dan mengenai kami. Setelah 15 menit berputar-putar, kami melihat sekelompok orang, kami memanggil mangil orang2 itu dari kejauhan. Akhirnnya mereka tahu kalau kami tersesat di batu – batu itu. Akhirnya Paman itu menunjukkan jalan yang benar dari kejauhan. Akhirnya kami  berdua bisa kembali ke trek menuju keatas ( batas Aman ). Kami sempat dimarahi oleh Paman tersebut karena kami ceroboh dan nekat untuk turun sendirian menuju Kawah, ternyata Paman itu adalah Guide. Setelah diceramahi, kami langsung naik ke batas aman. Disana ternyata sudah banyak orang yang mengabadikan blue fire, orang asing juga sangat banyak disana.Tapi karena kurang persiapan, kami hanya membawa kamera digital biasa dan tidak bisa mengabadikan Blue Fire melalui foto. Bisa dibilang Blue Fire ini memang bagus. Api yang keluar dari bawah berwarna biru, dan sangat bagus jika diabadikan melalui kamera beresolusi tinggi.

Pukul 05.00 saya Shalat Subuh, dan menunggu matahari terbit disana. Setelah terbit kami langsung turu kembali ke pos awal pendakian. Tidak lupa kami mengambil gambar diatas ketinggian 2799 mdpl itu. Kami turun hanya membutuhkan waktu 2 jam. Berbeda dengan naik yang kami tempuh sekitar 3.5 Jam. Setelah kami Smpai dibawah Kami langsung pulang ke jember. Tapi kali ini kami berputar Melewati Banyuwangi.

Setelah sarapan pagi di Kota Banyuwangi, kami melanjutkan pulang ke Jember melewati alas/hutan yang angker dikenal dengan alas Gumitir (dekat alas purwo). Dengan jalan yang berliuk – liuk, saya dan Wahyu hanya bias tidur selama perjalanan karena kecapekan mendaki di malam hari. Setelah sampa, kami langsung mandi dan mencuci beberapa pakaian yang kami buat muncak.

Besoknnya kami berpamitan pulang san tidak lupa berterimakasih kepada Nenek dan Bibi saya. Kami berangkat dari Jember pukul 08.00 naik kereta Tawangalun. Dari kereta yang berjalan menuju Kota Malang, Kami melihat Kegagahan Gunung Ijen dari kejauhan. Dan kami sadar bahwa Gunung itu cukup tinggi juga..hehehe #barusadar. Sesampanya di Kota Malang, kami langsung membeli tiket menuju Tulungagung, dan langsung pulang ke Trenggalek. Kami sampai Trenggalek sekitar pukul 18.30. Setelah sampai saya langsung beristirahat dan tidur.

Pengalaman yang saya dapat adalah Saya harus memikirkan matang – matang jika akan melakukan sesuatu yang beresiko, seperti turun ke kawah tanpa Guide dan akhirnya kesasar :D. dan masih banyak pengalaman – pengalaman yang saya dapatkan.

Catatan: Baju dan jaket yang saya kenakan waktu di Gunung Ijen, sampai tulisan ini dipublikasikan masih bau belerang yang menyengat -_-

END


Berikut foto - fotonya...

NB: - Foto api biru saya ambil dari internet, karena waktu kesana saya hanya membawa kamera
           biasa
          - Beberapa foto masih miring, males nge rotate :v
       - Maaf masih berantakan, masih newbie :D














































Tidak ada komentar:

Posting Komentar